Di antara deru mesin, padatnya jalan menuju kampung halaman, ada sesuatu yang lebih halus bergerak di ruang batin kita sesuatu yang tidak kasat mata, tetapi terasa nyata: kasih sayang yang saling dinyalakan
Riset kang Budhiana Kartawijaya, Data Journalist. Researcher Kawaldata.com. Meriset 6.500 komentar percakapan tentang mudik di TikTok, muncul 10 kata yang menonjol: mudik, selamat, tujuan, semoga, sehat, kapal, hati, keluarga, Allah, macet.
Sekilas, seperti hanya kumpulan kata. Namun jika dirangkai, ia membentuk satu kalimat batin yang utuh : perjalanan yang penuh risiko, dihadapi dengan harapan, demi cinta, dengan sandaran spiritual, dan kesadaran rasa. Di situlah letak keindahannya.
Mudik bukan sekadar fenomena transportasi, tetapi ritual kemanusiaan yang utuh: fisik, emosional, dan spiritual sekaligus. Ada jalan yang padat, ada tubuh yang lelah, tetapi juga ada hati yang selalu tetap menyala. Termasuk terhadap binatang peliharaan.

Membaca ribuan percakapan tentang mudik. Kata-kata yang muncul bukan kemarahan, bukan keluhan yang tajam, melainkan doa-doa sederhana: “hati-hati di jalan,” “semoga selamat sampai tujuan,” “aamiin.”
Seolah-olah, dalam hiruk-pikuk perjalanan itu, netizen Indonesia sedang diam-diam menjadi lebih lembut dari biasanya. Kata “selamat” dan “semoga” menjadi sangat dominan.
Dalam kajian komunikasi, repetisi kata menunjukkan nilai yang hidup dalam kesadaran kolektif. Artinya, yang paling ingin disampaikan orang bukan informasi, tetapi perhatian.
Bukan: “jalannya macet lima kilometer.” Melainkan: “hati-hati ya.”
Di sini terjadi pergeseran yang halus namun penting: dari informasi ke afeksi, dari fakta ke doa.
Kehadiran kata “Allah” di antara kata-kata logistik seperti kapal dan macet juga menunjukkan sesuatu yang lebih dalam. Masyarakat senantiasa menyertakan kesadaran transenden yang ikut menyertai.
Menjadikan mudik adalah perjalanan spiritual.
Meski kata “macet” tetap hadir. Yang menunjukkan bahwa realitas tidak diingkari. Ada ketidaknyamanan, ada keterbatasan sistem. Namun menariknya, kata itu tidak meledak menjadi kemarahan. Ia hadir sebagai fakta, bukan sebagai emosi.
Artinya, masyarakat tidak menutup mata terhadap masalah, tetapi juga tidak membiarkan masalah menguasai batin mereka. Mereka memilih jalan damai : mengelola ketidakpastian dengan empati.
Di titik ini, mudik tidak lagi sekadar perpindahan tubuh dari kota ke desa. Ia menjelma menjadi perjalanan batin perjalanan pulang menuju cinta.
Seorang sufi besar, Jalaluddin Rumi, pernah berbisik dari kedalaman sunyi: “Apa yang kau cari, sesungguhnya sedang mencarimu.”
Maka mudik bukan sekadar perjalanan tubuh yang berpindah dari kota ke desa, dari hiruk pikuk ke hening. Ia adalah panggilan yang tak terdengar oleh telinga, tetapi menggema di relung jiwa.
Kita mengira sedang mencari rumah, padahal rumah itulah yang diam-diam memanggil kita sejak lama melalui rindu yang tak pernah selesai dijelaskan.
Di sepanjang jalan, di antara kemacetan dan debu perjalanan, ada sesuatu yang berjalan lebih halus dari langkah kaki: cinta yang pulang kepada asalnya.
Kita berangkat dengan niat menemui keluarga, namun sesungguhnya yang lebih dahulu berangkat adalah kerinduan itu sendiri. Ia menunggu kita di wajah ibu yang menua, di pelukan ayah yang kini tinggal kenangan, di suara-suara yang dulu akrab namun kini hanya bergaung di dalam dada.
Dan ketika kita melangkah ke makam kedua orang tua, sunyi menjadi lebih jernih.
Tanah yang tampak diam itu sesungguhnya penuh percakapan. Kita tidak sekadar berziarah kitalah yang diziarahi oleh kenangan, oleh doa-doa yang dahulu dipanjatkan untuk kita, oleh cinta yang tak pernah benar-benar pergi.
Di sana, kita belajar bahwa pulang bukan tentang jarak, melainkan tentang kembali menjadi hamba yang sadar bahwa hidup ini hanyalah titipan perjalanan.
Kita menunduk, menyentuh bumi, seakan berkata: “Jika dulu aku dipanggil untuk lahir, kini aku dipanggil untuk mengingat.”
Barangkali itulah rahasia mudik : bukan kita yang menemukan cinta,
tetapi cinta yang menjemput kita,lalu menuntun kita pulang
kepada asal, kepada kasih, dan pada akhirnya, kepada-Nya.
Mudik memperlihatkan bahwa bangsa ini memiliki sesuatu yang sering luput dari hitungan statistik yaitu kecerdasan emosional kolektif, kemampuan untuk saling menguatkan dalam ketidak sempurnaan
Dan lebih dari itu, kita memiliki kebiasaan mencintai tanpa harus saling mengenal. Seperti kata Al-Ghazali:
“Cinta adalah kecenderungan hati kepada sesuatu yang sesuai dengan fitrahnya.” Maka ketika seseorang berkata, “hati-hati di jalan,” kepada orang lain yang bahkan tak pernah ia temui, sejatinya bukan basa-basi. Itu adalah fitrah yang sedang menemukan jalannya.
Mudik, dengan segala kemacetannya, justru membuka ruang bagi cinta untuk bekerja diam-diam. Ia hadir dalam kalimat pendek. Dalam doa yang singkat. Dalam harapan yang sederhana.
Dan mungkin, di situlah makna terdalamnya: Bahwa kita, sebagai manusia, pada dasarnya tidak benar-benar sendiri. Kita hidup dalam jejaring doa yang saling terucap, dalam perhatian kecil yang saling dikirimkan, dalam harapan yang saling dititipkan.
Mudik mengingatkan kita bahwa di tengah segala keterbatasan, kita masih saling menyayangi sesama
Idulfitri bukan hanya tentang kembali ke kampung halaman, tetapi tentang kembali ke keadaan jiwa yang paling murni: jiwa yang mampu mendoakan orang lain, dan empati atas kesuitan orang lain.
Selamat Idul Fitri 1447 H, mohon maaf lahir batin.
Penulis Dr. Eki Baihaki,M.Si, Dosen Magister Komunikasi Pascasarjana UNPAS, pemudik yang tidak pernah absen sejak pindah dari kampung halaman.













