Sabtu, April 11, 2026
  • Login
ICMI Cimahi
  • Divisi Dakwah
  • Kewirausahaan & Kesra
  • LH & Kebencanaan
  • Kesehatan Holistik
  • Pemuda, Olga & Seni
  • Perempuan & Anak
  • Perpustakaan & Literasi
No Result
View All Result
ICMI Cimahi
  • Divisi Dakwah
  • Kewirausahaan & Kesra
  • LH & Kebencanaan
  • Kesehatan Holistik
  • Pemuda, Olga & Seni
  • Perempuan & Anak
  • Perpustakaan & Literasi
No Result
View All Result
Plugin Install : Cart Icon need WooCommerce plugin to be installed.
ICMI Cimahi
No Result
View All Result
Home Info Cendekia

Mudik : Menyalakan Kembali Rasa Saling Menyayangi

redaksidentang@gmail.com by redaksidentang@gmail.com
Maret 22, 2026
in Info Cendekia
0 0
0
Mudik : Menyalakan Kembali Rasa Saling Menyayangi

Di antara deru mesin, padatnya jalan menuju kampung halaman, ada sesuatu yang lebih halus bergerak di ruang batin kita sesuatu yang tidak kasat mata, tetapi terasa nyata: kasih sayang yang saling dinyalakan

Riset kang Budhiana Kartawijaya, Data Journalist. Researcher Kawaldata.com. Meriset 6.500 komentar percakapan tentang mudik di TikTok, muncul 10 kata yang menonjol: mudik, selamat, tujuan, semoga, sehat, kapal, hati, keluarga, Allah, macet.

Sekilas, seperti  hanya kumpulan kata. Namun jika dirangkai, ia membentuk satu kalimat batin yang utuh : perjalanan yang penuh risiko, dihadapi dengan harapan, demi cinta, dengan sandaran spiritual, dan kesadaran rasa. Di situlah letak keindahannya.

Mudik bukan sekadar fenomena transportasi, tetapi ritual kemanusiaan yang utuh: fisik, emosional, dan spiritual sekaligus. Ada jalan yang padat, ada tubuh yang lelah, tetapi juga ada hati yang selalu tetap menyala. Termasuk terhadap binatang peliharaan.

Membaca ribuan percakapan tentang mudik. Kata-kata yang muncul bukan kemarahan, bukan keluhan yang tajam, melainkan doa-doa sederhana: “hati-hati di jalan,” “semoga selamat sampai tujuan,” “aamiin.”

Seolah-olah, dalam hiruk-pikuk perjalanan itu, netizen Indonesia sedang diam-diam menjadi lebih lembut dari biasanya. Kata “selamat” dan “semoga” menjadi sangat dominan.

Dalam kajian komunikasi, repetisi kata menunjukkan nilai yang hidup dalam kesadaran kolektif. Artinya, yang paling ingin disampaikan orang bukan informasi, tetapi perhatian.

Bukan: “jalannya macet lima kilometer.” Melainkan: “hati-hati ya.”

Di sini terjadi pergeseran yang halus namun penting: dari informasi ke afeksi, dari fakta ke doa.

Kehadiran kata “Allah” di antara kata-kata logistik seperti kapal dan macet juga menunjukkan sesuatu yang lebih dalam. Masyarakat senantiasa menyertakan kesadaran transenden yang ikut menyertai.

Menjadikan mudik adalah perjalanan spiritual.

Meski kata “macet” tetap hadir. Yang  menunjukkan bahwa realitas tidak diingkari. Ada ketidaknyamanan, ada keterbatasan sistem. Namun menariknya, kata itu tidak meledak menjadi kemarahan. Ia hadir sebagai fakta, bukan sebagai emosi.

Baca Juga  Menjadi Cendekiawan Muslim: Berpikir Melampaui Diri, Berkhidmat untuk Semesta

Artinya, masyarakat tidak menutup mata terhadap masalah, tetapi juga tidak membiarkan masalah menguasai batin mereka. Mereka memilih jalan damai : mengelola ketidakpastian dengan empati.

Di titik ini, mudik tidak lagi sekadar perpindahan tubuh dari kota ke desa. Ia menjelma menjadi perjalanan batin perjalanan pulang menuju cinta.

Seorang sufi besar, Jalaluddin Rumi, pernah berbisik dari kedalaman sunyi: “Apa yang kau cari, sesungguhnya sedang mencarimu.”

Maka mudik bukan sekadar perjalanan tubuh yang berpindah dari kota ke desa, dari hiruk pikuk ke hening. Ia adalah panggilan yang tak terdengar oleh telinga, tetapi menggema di relung jiwa.

Kita mengira sedang mencari rumah, padahal rumah itulah yang diam-diam memanggil kita sejak lama melalui rindu yang tak pernah selesai dijelaskan.

Di sepanjang jalan, di antara kemacetan dan debu perjalanan, ada sesuatu yang berjalan lebih halus dari langkah kaki: cinta yang pulang kepada asalnya.

Kita berangkat dengan niat menemui keluarga, namun sesungguhnya yang lebih dahulu berangkat adalah kerinduan itu sendiri. Ia menunggu kita di wajah ibu yang menua, di pelukan ayah yang kini tinggal kenangan, di suara-suara yang dulu akrab namun kini hanya bergaung di dalam dada.

Dan ketika kita melangkah ke makam kedua orang tua, sunyi menjadi lebih jernih.

Tanah yang tampak diam itu sesungguhnya penuh percakapan. Kita tidak sekadar berziarah kitalah yang diziarahi oleh kenangan, oleh doa-doa yang dahulu dipanjatkan untuk kita, oleh cinta yang tak pernah benar-benar pergi.

Di sana, kita belajar bahwa pulang bukan tentang jarak, melainkan tentang kembali menjadi hamba yang sadar bahwa hidup ini hanyalah titipan perjalanan.

Kita menunduk, menyentuh bumi, seakan berkata: “Jika dulu aku dipanggil untuk lahir, kini aku dipanggil untuk mengingat.”

Baca Juga  Madrasah Lansia Husnul Khatimah : Ikhtiar Memuliakan Usia Senja

Barangkali itulah rahasia mudik : bukan kita yang menemukan cinta,
tetapi cinta yang menjemput kita,lalu menuntun kita pulang
kepada asal, kepada kasih, dan pada akhirnya, kepada-Nya.

Mudik memperlihatkan bahwa bangsa ini memiliki sesuatu yang sering luput dari hitungan statistik yaitu kecerdasan emosional kolektif, kemampuan untuk saling menguatkan dalam ketidak sempurnaan

Dan lebih dari itu, kita memiliki kebiasaan mencintai tanpa harus saling mengenal. Seperti kata Al-Ghazali:

“Cinta adalah kecenderungan hati kepada sesuatu yang sesuai dengan fitrahnya.” Maka ketika seseorang berkata, “hati-hati di jalan,” kepada orang lain yang bahkan tak pernah ia temui, sejatinya bukan basa-basi. Itu adalah fitrah yang sedang menemukan jalannya.

Mudik, dengan segala kemacetannya, justru membuka ruang bagi cinta untuk bekerja diam-diam. Ia hadir dalam kalimat pendek. Dalam doa yang singkat. Dalam harapan yang sederhana.

Dan mungkin, di situlah makna terdalamnya: Bahwa kita, sebagai manusia, pada dasarnya tidak benar-benar sendiri. Kita hidup dalam jejaring doa yang saling terucap, dalam perhatian kecil yang saling dikirimkan, dalam harapan yang saling dititipkan.

Mudik mengingatkan kita bahwa di tengah segala keterbatasan, kita masih saling menyayangi sesama

Idulfitri bukan hanya tentang kembali ke kampung halaman, tetapi tentang kembali ke keadaan jiwa yang paling murni: jiwa yang mampu mendoakan orang lain, dan empati atas kesuitan orang lain.

Selamat Idul Fitri 1447 H, mohon maaf lahir batin.


Penulis Dr. Eki Baihaki,M.Si, Dosen Magister Komunikasi  Pascasarjana UNPAS, pemudik yang tidak pernah absen sejak pindah dari kampung halaman.

ShareTweet
redaksidentang@gmail.com

redaksidentang@gmail.com

Next Post
Melangkah Bersama Menjadi Penggerak Peradaban Ekologi

Melangkah Bersama Menjadi Penggerak Peradaban Ekologi

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Buku Panduan Kampung Cendekia Cimahi

Buku Panduan Kampung Cendekia Cimahi

Juni 4, 2025
RW 25 Cibabat ”RW Kampung Cendekia” Penggerak Peradaban Peduli Lingkungan

RW 25 Cibabat ”RW Kampung Cendekia” Penggerak Peradaban Peduli Lingkungan

Juli 18, 2025
Paguyuban Pasundan Penggerak Jatidiri Peradaban Sunda

Paguyuban Pasundan Penggerak Jatidiri Peradaban Sunda

Juli 21, 2025
Kampung Cendekia RW 14 Kelurahan Baros: Keberagaman yang Menyatukan

Kampung Cendekia RW 14 Kelurahan Baros: Keberagaman yang Menyatukan

Juni 8, 2025
Kolaborasi Mewujudkan Kampung Cendekia Cimahi

Kolaborasi Mewujudkan Kampung Cendekia Cimahi

0
FGD Penguatan “Program Magrib Mengaji”Kolaborasi ICMI dan MUI Kota Cimahi

FGD Penguatan “Program Magrib Mengaji”Kolaborasi ICMI dan MUI Kota Cimahi

0
Kampung Cendekia Mendukung “Cimahi Zero TPA”

Kampung Cendekia Mendukung “Cimahi Zero TPA”

0
Hukum Anti Korupsi

Hukum Anti Korupsi

0
Melangkah Bersama Menjadi Penggerak Peradaban Ekologi

Melangkah Bersama Menjadi Penggerak Peradaban Ekologi

Maret 25, 2026
Mudik : Menyalakan Kembali Rasa Saling Menyayangi

Mudik : Menyalakan Kembali Rasa Saling Menyayangi

Maret 22, 2026
Madrasah Lansia Husnul Khatimah : Ikhtiar Memuliakan Usia Senja

Madrasah Lansia Husnul Khatimah : Ikhtiar Memuliakan Usia Senja

Maret 18, 2026
Menjadi “Intellectual Peace Builder”di Tengah Bayang Perang Dunia

Menjadi “Intellectual Peace Builder” di Tengah Konflik Membara

Maret 6, 2026
ICMI Cimahi

Situs Resmi ICMI Orda Kota Cimahi.
Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia disingkat ICMI adalah sebuah organisasi cendekiawan muslim di Indonesia dan merupakan wadah untuk beramal, berkreasi, berkomunikasi, dan berprestasi guna mengangkat harkat kehidupan masyarakat, bangsa dan negara Indonesia dalam rangka pengabdian kepada Allah SWT.

Menu

  • Artikel
  • Bersih Narkoba
  • Divisi Dakwah
  • Greeting
  • Info Cendekia
  • Kabar
  • Kebangsaan
  • Kesehatan Holistik
  • LH & Kebencanaan
  • Magrib Mengaji
  • Peduli Lingkungan
  • Pembauran Kebangsaan
  • Pojok Literasi
  • Pustaka Cendekia
  • Video Cendekia

Baca Juga

Mudik : Menyalakan Kembali Rasa Saling Menyayangi

Mudik : Menyalakan Kembali Rasa Saling Menyayangi

Maret 22, 2026
Madrasah Lansia Husnul Khatimah : Ikhtiar Memuliakan Usia Senja

Madrasah Lansia Husnul Khatimah : Ikhtiar Memuliakan Usia Senja

Maret 18, 2026

© 2026 ICMI Orda Kota Cimahi

No Result
View All Result
  • Divisi Dakwah
  • Kesehatan Holistik
  • Perempuan & Anak
  • Kesra
  • Pemuda, Olga & Seni
  • Literasi
  • LH
  • Kebangsaan
  • Humas

© 2026 ICMI Orda Kota Cimahi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In