Di tengah dunia yang diliputi ketegangan geopolitik yang berpotensi menuju perang dunia ketiga, manusia kembali dihadapkan pada pertanyaan mendasar : apakah memilih jalan kekerasan, atau jalan perdamaian ?
Sejarah memberi kita pelajaran berharga. Dalam kisah Al-Qur’an tentang Ratu Saba (Bilqis), ketika menerima surat dari Nabi Sulaiman, ia berada pada persimpangan besar: memilih jalan perang atau memilih damai.
Sebagai seorang ratu, seorang pemimpin negara yang memiliki kekuatan dan pasukan, ia sebenarnya memiliki kemampuan untuk menghadapi perang. Namun Bilqis justru memilih jalan kebijaksanaan dan diplomasi.
Beliau berkata kepada para pembesarnya bahwa ”perang hanya akan menjadikan negeri hancur, orang-orang terhormat menjadi terhina, dan rakyat yang tidak bersalah menjadi korban” karena itu ia memilih jalan dialog dan musyawarah.
Keputusan tersebut bukanlah tanda kelemahan, melainkan manifestasi kedalaman hikmah seorang pemimpin yang memahami bahwa kemenangan sejati bukanlah menaklukkan musuh, tetapi menjaga keselamatan rakyat dan keberlanjutan peradaban.

Kisah ini memberi pesan mendalam di tengah meningkatnya konflik dan rivalitas geopolitik, umat manusia sering lupa bahwa harga dari sebuah perang selalu dibayar oleh penderitaan masyarakat sipil yang mereka sendiri tidak pernah memilih konflik tetapi harus menanggung akibatnya.
Karena itu, peradaban membutuhkan suara kebijaksanaan. Para sufi sejak dahulu mengingatkan bahwa kedamaian sejati lahir dari hati yang tercerahkan. Dalam kebijaksanaan ini, manusia diajak memahami bahwa konflik seringkali bermula dari ego yang tak terkelola.
Ibnu ‘Athaillah dalam Al-Hikam mengingatkan, “Istirahatkan dirimu dari mengatur dunia; apa yang telah diatur oleh Allah tidak perlu kau sibukkan lagi.” Pesan ini mengandung makna mendalam: ketika manusia terlalu dikuasai ambisi kekuasaan dan nafsu dominasi, akan menyalakan konflik dan merusak tatanan kehidupan.
Di sinilah peran kaum cendekiawan menjadi penting. Cendekiawan tidak hanya bertugas memproduksi gagasan, tetapi juga menjaga akal sehat peradaban. Menjadi jembatan dialog ketika masyarakat terbelah, dan sebagai penyejuk ketika emosi kolektif mulai memanas.
Dalam perspektif ini, Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dapat mengambil peran sebagai intellectual peace builder sekaligus penggalang ukhuwah. ICMI bukan sekadar organisasi intelektual, tetapi gerakan moral yang berupaya menghadirkan kecendekiaan sebagai kekuatan perdamaian.

Kita melihat bahwa banyak konflik sosial berakar pada rapuhnya kohesi sosial dan melemahnya ruang dialog. Ketika masyarakat kehilangan jembatan komunikasi, perbedaan mudah berubah menjadi kecurigaan, dan kecurigaan dapat berkembang menjadi konflik.
Karena itu, kaum intelektual memiliki peran strategis sebagai penjaga harmoni sosial. Menjadi penghubung yang merajut kembali simpul-simpul persaudaraan yang renggang. Menyalakan kembali kesadaran bahwa perbedaan tidak harus berujung pada pertentangan.

Ukhuwah yang dibangun bukan hanya ukhuwah keagamaan, tetapi juga ukhuwah kebangsaan dan kemanusiaan dilandasi kesadaran bahwa manusia, meskipun berbeda latar belakang, tetap harus berbagi masa depan yang sama.
Sebagaimana ungkapan Rumi “Di luar gagasan benar dan salah, ada sebuah taman. Di sanalah aku akan menemuimu.” Taman itu adalah ruang dialog tempat manusia bertemu bukan sebagai lawan, tetapi sebagai sesama pencari kebenaran.
Pada akhirnya, sebagaimana hikmah yang tercermin dari keputusan Ratu Bilqis memilih jalan damai, peradaban akan selalu membutuhkan mereka yang berani memilih kebijaksanaan di atas konflik.
Dan di tengah dunia yang sering gaduh oleh pertarungan kepentingan, peran kaum cendekiawan adalah menjaga agar suara kebijaksanaan tetap terdengar.
Ada tugas sejarah dari para cendekiawan untuk mengambil peran sebagai penggalang ukhuwah, di setiap ruang kehidupan dari lingkup keluarga, tetangga, masyarakat dan bangsa.
Persaudaraan bukan sekadar relasi sosial, tetapi cahaya Ilahi yang menuntun hati. Ketika ilmu disatukan dengan cinta dan kekuasaan diarahkan oleh akhlak, lahirlah peradaban yang teduh.
Damai sejatinya bukan hanya agenda politik, melainkan perjalanan batin untuk menundukkan ego, merangkul perbedaan, dan menumbuhkan kasih agar setiap kampung, setiap kota dan setiap negara serta warga dunia dipimpin oleh hikmah, bukan amarah. Semoga !
Penulis : Dr. Eki Baihaki, M.Si, Pengurus Forum Pembauran Kebangsaan (FPK Jawa Barat), Sekretaris ICMI orda Cimahi dan Dosen Pasca Sarjana UNPAS.













