Peradaban seringkali tidak runtuh oleh perang besar atau bencana. Namun runtuh karena retak perlahan, dari hal yang kita anggap remeh : sampah yang kita buang, dari cara kita melepas tanggung jawab atas sampah yang kita abaikan.
Seorang sufi mengingatkan bahwa jejak batin selalu tercetak pada jejak lahir. Rumi menulis, “Apa yang kau cari, sedang mencarimu.” Maka sampah yang kita hindari sesungguhnya sedang memanggil kesadaran kita yang meminta dihadapi, bukan diabaikan dan dipindahkan.
Zero to TPA bukan sekadar program teknis pengelolaan lingkungan. Ia adalah manifesto : pernyataan etis, kultural, dan spiritual, bahwa sebuah masyarakat sejatinya memiliki kesadaran untuk tidak lagi memindahkan beban hidupnya ke tempat lain. Dan mewariskan residu perilakunya sendiri, kepada bumi dan generasi mendatang.

Di titik inilah Zero to TPA ditempatkan sebagai target awal edukasi publik dari Sekolah Ekologi Insan Cendekia, bukan sebagai sekolah formal, melainkan platform edukasi yang inklusif. Sekolah ekologi membuka peran semua unsur bangsa untuk terlibat, bukan hanya menjadi penonton.
Anak-anak, orang tua, tokoh adat, tokoh agama, akademisi, komunitas, pelaku usaha, hingga aparatur wilayah diundang belajar bersama, bergerak bersama, dan bertanggung jawab bersama mengolah sampah.
Zero TPA, juga menjawab gugatan etis Abah Emen, sesepuh adat Cireundeu. Di hadapan wali kota, pejabat kementerian lingkungan hidup, para akademisi, pegiat lingkungan, pada peringatan HPSN kota Cimahi, 21 Februari 2026.
Abah Emen melontarkan pertanyaan yang hening namun mengguncang:
“Mengapa kesadaran Hari Peduli Sampah Nasional baru hadir sekarang, tidak sebelum tahun 2005—sebelum tragedi Leuwigajah yang menewaskan lebih dari 157 orang terjadi?”
Pertanyaan Abah Emen harus dimaknai bukan hujatan, melainkan cermin nurani. Bahwa sering kali manusia baru belajar setelah kehilangan, baru sadar setelah bencana. Namun kearifan tidak mengajarkan putus asa. Ada hikmah yang lembut namun tegas: lebih baik terlambat sadar daripada tidak sama sekali.
Lebih baik menyalakan lilin linin kecil daripada hanya menyumpahi kegelapan. Zero to TPA, dalam makna ini, adalah lilin itu—mungkin kecil, mungkin redup, yang harus kita nyalakan bersama untuk menerangi kegelapan ekologi
Sekolah ekologi menyakini bahwa urusan lingkungan adalah bukan semata tugas pemerintah. Pemerintah memiliki peran penting sebagai regulator dan fasilitator, tetapi peradaban tidak pernah dibangun oleh negara sendirian. Ia dibangun oleh warga yang mau terlibat, oleh komunitas yang mau merawat, oleh individu-individu yang berani bertanggung jawab atas jejak hidupnya sendiri.
Di sini, Zero to TPA bukan diajarkan sebagai angka atau target administratif, melainkan sebagai pengalaman dan kesadaran kolektif kita semua untukmemilah bersama, mengolah bersama, memperbaiki bersama.
Sekolah ekologi merupakan program strategis ICMI Orda Cimahi—ikhtiar kaum cendekia untuk menjembatani iman, ilmu, dan aksi nyata. Lingkungan tidak ditempatkan sebagai isu pinggiran, melainkan sebagai persoalan peradaban: bagaimana nilai agama, kearifan lokal, dan pengetahuan modern bertemu dalam praktik sehari-hari.
Dalam Islam, manusia disebut khalifah fil ardh penjaga bumi. Bukan sebagai penguasa dan pengusaha yang merusak bumi. Amanah ini tidak diukur dari seberapa tinggi bangunan yang kita dirikan, melainkan dari seberapa sedikit kerusakan yang kita tinggalkan.
Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa perbuatan lahir adalah cermin keadaan batin. Jika lingkungan kotor, boleh jadi ada setitik noda kesadaran kita yang belum selesai dibersihkan.
Sufisme memandang kehidupan sebagai proses penyucian bukan hanya penyucian jiwa, tetapi juga penyucian relasi manusia dengan sesama dan dengan alam. Dalam laku sufistik, yang kotor tidak ditolak, melainkan dibersihkan; yang tersisa tidak dibuang, melainkan diolah.
Maka mengelola sampah tuntas di tempat sejatinya adalah tirakat ekologis: latihan menahan diri dari sikap serba instan, serba lempar, serba ingin bersih tanpa mau bertanggung jawab membersihkan.
Kearifan laku para wali tidak memisahkan langit dan tanah, zikir dan laku, iman dan kebiasaan. Berdakwah menanamkan nilai tauhid ke dalam kebudayaan hidup. Dalam napas inilah Zero to TPA menemukan ruhnya: bukan sebagai jargon kebijakan, tetapi sebagai kebiasaan yang pelan-pelan membentuk watak kolektif.
Kearifan Sunda menyampaikan pesan yang sama dengan bahasa yang filosofis Silih asih, silih asah, silih asuh bukan sekadar etika sosial, melainkan fondasi ekologis. Mengasihi berarti tidak merusak ruang hidup bersama.
Mengasah berarti saling mengingatkan agar tidak ceroboh pada alam. Mengasuh berarti merawat keberlanjutan, bukan menghabiskannya. Pepatah “leuweung ruksak, cai beak, manusa balangsak” adalah diagnosa peradaban—peringatan bahwa rusaknya alam selalu beriringan dengan runtuhnya martabat manusia.
Peradaban besar tidak lahir dari kebijakan megah semata, melainkan dari disiplin kolektif atas hal-hal kecil. Memilah sampah di rumah, mengolah sisa makanan, mengurangi residu—di situlah karakter ditempa.
Hasan al-Basri mengingatkan bahwa dunia hanyalah persinggahan, dan yang tersisa hanyalah amal. Mengelola sampah agar tidak mencelakai sesama adalah amal sunyi dengan dampak panjang, bukan dosa jariyah
Zero to TPA mengajarkan kemandirian batin: tidak memindahkan dosa ekologis ke tempat lain, tidak menunda tanggung jawab dengan dalih sistem. Mandiri bukan berarti berjalan sendiri, tetapi berdiri tegak karena sadar dan bertanggung jawab.
Di titik inilah Zero to TPA benar-benar menjadi jalan peradaban. Ia membentuk manusia yang jujur pada jejak hidupnya, pemimpin yang memberi teladan, dan warga yang tidak alergi pada kerja sunyi. Peradaban yang tidak gemerlap, tetapi kokoh. Tidak bising, tetapi berakar.
Saat mimpi terwujud, bumi terasa lebih ringan dan kota lebih lapang, itu bukan sekadar karena tonase sampah menyusut. Itu tanda kita mulai mengerti: peradaban lingkungan bukan proyek siapa-siapa, melainkan amanah bersama. Kita semua adalah penggeraknya.
Maka jadilah penggerak peradaban Zero TPA—bergerak dari kesadaran, menata dari hati, merawat sebagai ibadah. Dari langkah yang pelan dan jujur itu, peradaban tumbuh—insyaAllah, berkah.
Penulis : Dr. Eki Baihaki, M.Si, Penggagas Sekolah Ekologi Insan Cendekia, Dosen Pasca Sarjana UNPAS.













